Dodi Zulkifli - Materi di dalam tulisan ini adalah milik guru Branding saya, yaitu Bapak Subiakto. Beliau pernah mengisi kulgram (kuliah telegram) di channel saya DesignTalk. Bagi yang mau ikut join bisa klik link nanti di akhir materi ya.
Indonesia memerlukan sekurang-kurangnya
1000 orang untuk membranding sekurang-kurangnya 75.000 brand.
Indonesia terdiri dari 34
propinsi, 444 Kabupaten dan kabupaten kota, 8.000an kecamatan, 75.000 desa.
Jadi kalau saya punya 1.000 alumni Bisa-Bikin-Brand maka masing-masing alumni
bertanggung jawab membranding 75 desa. Berat? Iya. Karena itu bantu kami
memperbanyak orang yang bisa membantu membangun brand desa/kotanya
Dua puluh tahun lalu pemerintah
Jepang memperkenalkan OVOP - One Village One Product. Dan berhasil. Keberhasilannya
kemudian di ATM - Amati Tiru Modifikasi oleh dunia termasuk Indonesia. Profinsi
Jawa Tengah saat ini sedang getol-getolnya menggenjot OVOP dengan berbagai
insentive bagi pelaku UKM
Diikuti oleh Korea Selatan
yang memperkenalkan OVOB - One Village One Brand atau satu desa satu Brand.
Lalu saya berpikir mengapa tidak
desanya yang kita jadikan BRAND. The Village is The Brand. Mungkinkah? Mungkin.
Karena definisi BRAND adalah ikatan emosi antara produk dgn konsumennya. Maka
produk-produk hasil desanya otomatis sudah punya ikatan emosi dgn penduduknya
yang lazim kita sebut Captive Market dan
masyarakat Indonesia umumnya. Kalau Indonesia bener Bisa-Bikin-Brand sebanyak
75.000 maka tak ada lagi ruang buat BRAND luar masuk ke Indonesia karena sifatnya
cuma jadi trend saja. Restoran baru buka palingan cuma tahan setahun. Sudah
gitu pulang kenegaranya. Karena lidah orang Indonesia bakal balik ke selera
asal.
Dengan konsep ini saya pikir memBRANDing
desa akan membangun pertahanan bagi desanya dan dengan sendirinya desa tersebut
menjadi desa yang mandiri
Bagaimanakan struktur untuk bisa membangun Desa sebagai sebuah Brand
dikaitkan dengan produk masing-masing Pelaku UKM?
Misalnya, kalau semula mereka
menyebut mereknya Loenpia Mbak Lien, sisipkanlah nama kota Semarang lalu
menjadi Loenpia Semarang mbak Lien.
Kalau semula mereka menyebut
mereknya Sate Maranggi Hj Yety, sisipkanlah nama kota Purwakarta lalu menjadi
Sate Maranggi Purwakarta Hj Yety.
Kalau semula mereka menyebut
mereknya Gudeg Yu Djum, sisipkanlah nama kota Jogja lalu menjadi Gudeg Jogja Yu
Djum
Kalau semula mereka menyebut mereknya Rendang Beringin, sisipkanlah nama
kota Padang lalu menjadi Rendang Padang Beringin
Nah ketika masing-masing desa atau kota menjadi BRAND bersama dari banyak
produk para pelaku maka inilah yang saya sebut sebagai KOMUNAL BRAND. Brand yang dipakai bersama oleh pelaku UKM di desa
atau kota tersebut.
Tujuan KOMUNAL BRAND itu juga
menuntut loyalitas dari penduduk desa / kota yang bersangkutan dengan tujuan
melestarikan produk-produk lokal wisdom.
Saya tidak bisa membayangkan
kalau Rendang menhilang dari Padang karena anak2 muda Padang lebih suka makan
KFC dan generasi tuanya lebih suka makan rendang yang diimpor dari Negeri
Sembilan
Mayoritas dari kita-kita
berpendapat seperti itu. Bahwa Brand itu Merek. Brand itu Logo. Brand itu
Iklan. Brand itu packaging. Lebih
parah lagi Brand itu Buka Booth - pameran
Bukan
Brand bukan Merek. Brand Bukan Logo. Brand bukan packaging. Brand bukan kartu nama.
Bukan
Brand bukan Merek. Brand Bukan Logo. Brand bukan packaging. Brand bukan kartu nama.
Merek, Logo, Packaging, Iklan adalah BRAND IDENTITY. Identitas dari Brand. Jadi Brand itu apa?
BRAND ADALAH IKATAN EMOSI ANTARA KONSUMEN ANDA DENGAN PRODUK ANDA
BRAND ADALAH IKATAN EMOSI ANTARA KONSUMEN ANDA DENGAN PRODUK ANDA
BRAND ADALAH IKATAN EMOSI ANTARA KONSUMEN ANDA DENGAN PRODUK ANDA
Sangat menginspirasi sekali bukan materi yang dibawakan Pak Bi di atas. Bagi yang ingin join di channel telegram saya yaitu DesignTalk - Ngobrol Branding Tanpa Pusing bisa klik link di bawah ini. Dijamin GRATIS.
https://is.gd/DesignTalkForum1
Sangat menginspirasi sekali bukan materi yang dibawakan Pak Bi di atas. Bagi yang ingin join di channel telegram saya yaitu DesignTalk - Ngobrol Branding Tanpa Pusing bisa klik link di bawah ini. Dijamin GRATIS.
https://is.gd/DesignTalkForum1



Belum ada tanggapan untuk "The Village is The Brand"
Post a Comment